Sultan Maju Capres


Deklarasi Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai capres memang cukup mengejutkan. Namun Deklarasi yang hanya dihadiri rakyat Yogyakarta, mencerminkan jalan Sultan menuju RI 1 bukan perkara gampang. Sebab pencapresan dirinya hanya bersifat pribadi bukan keputusan partai tempatnya bernaung, Golkar.

"Untuk saat ini Sultan seperti Sutiyoso dan Rizal Ramli di pilpres. Sebab baru didukung partai kecil," jelas Yudi Latif, pengamat politik dari Reform Institute.

Saat ini Sutiyoso baru mendapat dukungan dari Partai Indonesia Sejahtera. Sedangkan Rizal Ramli ikut konvensi capres Partai Bintang Reformasi (PBR).

Sementara Sultan sekarang baru didukung Partai Republika Nusantara. Sementara Partai Karya Perjuangan (Pakar Pangan), baru sebatas oke-oke saja kalau partainya dijadikan kendaraan politik Raja Yogya tersebut.

"Silakan saja, partai kami terbuka bagi siapa saja. Asalkan punya visi dan misi yang sama," jelas Muhammad Yasin, Ketua Umum Pakar Pangan saat dihubungi detikcom.

Dikatakan Yasin, begitu Sultan mengumumkan diri siap maju di pilpres, dirinya langsung mengirimkan pesan singkat (SMS) yang berisi dukungan. Sebab kata Yasin, ia dan Sultan sudah berteman baik sejak lama. "Saya dan Sultan sering berkomunikasi melalui telepon. Beberapa kali juga sempat bertemu. Dalam waktu dekat saya juga akan datang ke sana (Yogya)," ujar Yasin.

Sementara Sekjen Pakar Pangan, Jakson Kumaat saat dihubungi membenarkan jika Yasin dan sejumlah pengurus DPN Pakar Pangan akan menemui Sultan dalam waktu dekat. Menurut dia, kedatangan mereka ke Yogya sebagai balasan atas kedatangan Sultan ke Jakarta, menemui Yasin, beberapa hari sebelum Rapimnas ke 2 Pakar Pangan, 25 Oktober lalu.

"Selain bersilaturahmi, kami juga akan berbicara soal pencapresan Sultan dan sikap Pakar Pangan. Tapi kami tidak bisa menjelaskan secara rinci saat ini," kata Jakson.

Namun rencana masuknya Pakar Pangan sebagai kendaraan politik Sultan dinilai Saiful Mujani Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, tidak akan berpengaruh besar. Sebab Pakar Pangan merupakan partai kecil, sedangkan untuk maju sebagai capres butuh suara yang besar. Berdasarkan RUU Pilpres yang sudah disahkan DPR, syarat dukungan capres minimal 15 % kursi parlemen atau 20% suara sah.

"Sultan tidak bisa maju sebagai capres tanpa ada dukungan Golkar. Sebab untuk saat ini suara Golkar relatif lebih besar dibanding partai-partai lain. Sehingga tidak kesulitan untuk memenuhi syarat dukungan capres," ungkap Mujani.

Tingginya syarat dukungan capres yang bakal disahkan dalam waktu dekat diperkirakan bakal memupuskan peluang capres-capres yang hanya didukung partai kecil.

Kesulitan Sultan yang lain, kata pengamat politik Andrinof Chaniago, untuk mendapat dukungan partai, perlu waktu yang sangat lama. Pertama, imbuh Andrinof, Sultan harus memperjelas visi dan misi yang mau ditawarkan. Kedua, Sultan harus menyodorkan paket tokoh-tokoh yang akan bergabung dalam kabinet banyangan.

"Untuk mencapai menyamakan visi dan misi saja waktunya sangat lama. Dan Sultan mendeklarasikan diri sebagai capres baru-baru ini," jelas pengamat politik dari UI tersebut.

Ia kemudian mencontohkan Sutiyoso yang sejak jauh-jauh hari mendeklarasikan diri sebagai capres. Hingga sekarang Bang Yos, panggilan akrab Sutiyoso, belum juga dapat kejelasan dari sejumlah partai yang sedang didekatinya. Padahal, Sutiyoso sudah bergerak ke sana-sini dan bertemu dengan siapa saja terkait pencapresan dirinya. Dan dana yang dikeluarkan untuk keperluan sosialisasi tersebut tidaklah sedikit.

Soal pendanaan juga harus dipikirkan Sultan. Sebab tanpa dukungan dana, niat Sultan akan sia-sia. Sebab untuk maju di pilpres, biaya kampanye yang dibutuhkan sangat tinggi. "Waktu yang dimiliki Sultan untuk penggalangan dana dan sosialisasi sangat mepet. Tidak mungkin Sultan bisa mempersiapkannya. Jadi saya kira deklarasi tersebut sebenarnya hanya wacana saja," ujarnya.(ddg/asy)


Tidak ada komentar: